BOGOR.24JAMNEWS.COM– Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa kondisi inflasi nasional pada Januari 2026 masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan. Senen 9 Februari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi secara tahunan atau year on year tercatat sebesar 3,55 persen.
Meski angka tersebut sedikit berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi 1 persen, Mendagri meminta masyarakat dan pemerintah daerah tidak menyikapinya secara berlebihan.
Menurutnya, data inflasi perlu dibaca secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persepsi keliru.
“Tidak perlu khawatir, karena angka ini tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa yang sebenarnya,” ujar Tito Karnavian saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dan Evaluasi Dukungan Pemda terhadap Program Tiga Juta Rumah, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, penyumbang utama inflasi tahunan pada Januari 2026 berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan kontribusi sebesar 1,72 persen.
Dari kelompok tersebut, tarif listrik menjadi faktor terbesar dengan andil 1,49 persen.
Menurut Tito, kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan kebijakan subsidi. Pada Januari 2025, tarif listrik masih mendapat subsidi sebesar 50 persen, sementara pada Januari 2026 tarif kembali normal.
“Seolah-olah terjadi kenaikan harga listrik, padahal sebenarnya tidak. Ini hanya efek perbandingan dengan periode yang disubsidi,” jelasnya.
Untuk melihat kondisi harga yang lebih riil, Mendagri menilai inflasi bulanan atau month to month perlu menjadi perhatian utama.
Berdasarkan data BPS, inflasi Januari 2026 justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dibandingkan Desember 2025.
Deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang penurunan sebesar 0,30 persen.