BOGOR.24JAMNEWS.COM — Gejolak pasar global kembali meningkat menyusul memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik hingga mendekati 110 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate WTI juga mengalami kenaikan signifikan di atas 113 dolar AS per barel.
Baca Juga: Aktivitas PKL Kembali Terlihat di Jalan Pedati Lawang Seketeng pada Malam Hari
Lonjakan tersebut memicu kehati-hatian investor global karena berpotensi menekan pasar saham serta nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kondisi tersebut harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera memperkuat fondasi ekonomi nasional, khususnya sektor industri pengolahan dan hilirisasi.
Menurut Noviardi, kenaikan harga energi dunia akan berdampak langsung terhadap tekanan inflasi, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Air Sumur Dijual Jadi Air Minum Depot Kecil Menjamur Ini Fakta Aturan Dan Risikonya
“Ketika harga minyak melonjak, dampaknya tidak hanya terasa pada BBM, tetapi juga merembet ke biaya transportasi, harga pangan, distribusi barang, dan beban subsidi pemerintah,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Ia menjelaskan, sebagai negara yang masih bergantung pada impor sebagian kebutuhan energi, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak global apabila konflik berlangsung dalam waktu lama.
Secara tidak langsung, lanjutnya, kondisi tersebut juga berpotensi membebani APBN dan memperbesar tekanan terhadap rupiah akibat keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang.
Baca Juga: Peredaran Ciu Oplosan Berkedok Toko Jamu Marak di Jalur Gadog Puncak Warga Resah
Karena itu, pemerintah dinilai perlu bergerak cepat dengan memperkuat cadangan energi nasional, menjaga stabilitas pasokan pangan, serta memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan lancar di seluruh daerah.
Noviardi juga menegaskan momentum gejolak global ini harus dimanfaatkan sebagai dorongan untuk mempercepat agenda hilirisasi industri dalam negeri.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Ini momentum untuk mempercepat hilirisasi, memperkuat industri domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi,” katanya.