Sementara itu, Dany Amrul Ichdan menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk tumbuh lebih cepat dan strategis di tengah dinamika ekonomi global.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Prajogo Pangestu hingga Anthony Salim Empat Jam Bahas Arah Ekonomi Nasional
Ia menyebut sumber daya alam Indonesia saat ini justru menjadi komoditas yang sangat relevan dan dibutuhkan dalam rantai ekonomi dunia.
“Indonesia diberkahi sumber daya alam yang sangat kuat. Ini bukan sekadar kekayaan alam, tetapi potensi besar untuk lompatan industri nasional,” ujar Dany.
Menurutnya, tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kualitas tata kelola, instrumen kebijakan, dan strategi pengelolaannya.
Baca Juga: Bupati Bogor Gandeng INASSOC, Airsoft Diarahkan Jadi Wadah Prestasi dan Cegah Tawuran
“Hilirisasi adalah instrumen untuk mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Saat nilai tambah diciptakan di dalam negeri, yang tumbuh bukan hanya ekspor, tetapi juga lapangan kerja berkualitas dan ekonomi daerah,” jelasnya.
Dany menegaskan bahwa konsep naik kelas tidak boleh dimaknai sebatas pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
“Naik kelas bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi tentang pertumbuhan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendorong kemajuan yang inklusif,” tegasnya.
Baca Juga: Pemda se Jawa Barat dan DPR RI Bahas Satu Data Indonesia, Dedie Rachim Soroti Pentingnya Integrasi
Ia mencontohkan pembangunan smelter oleh Grup MIND ID sebagai implementasi konkret hilirisasi yang memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan menciptakan efek berganda bagi sektor ekonomi lainnya.
“Satu smelter bisa melahirkan 10 hingga 12 industri hilir. Karena itu, ekosistemnya harus dirancang sejak awal,” ungkapnya.
Melalui forum akademik tersebut, ITB menegaskan perannya sebagai ruang dialog strategis kebangsaan sekaligus mendorong sinergi lintas sektor guna mewujudkan ekonomi Indonesia yang inklusif, berdaulat, dan berkelanjutan.***