BOGOR.24JAMNEWS.COM – Pembangunan fisik dan layanan digital sering dikaitkan dengan masa depan bangsa. Namun Ir. R. Haidar Alwi, MT mengingatkan ada faktor yang jauh lebih menentukan rasa aman publik: kultur Polri.
Dalam refleksinya, Minggu (23/11/2025), Haidar Alwi Pendiri Haidar Alwi Institute menegaskan bahwa pekerjaan terbesar Polri hari ini bukan di struktur, melainkan di budaya kerja.
Haidar menilai reformasi sejati tidak lahir dari pergantian figur, tetapi dari nilai, disiplin, dan budaya pelayanan yang berlanjut dari satu generasi polisi ke generasi berikutnya.
Baca Juga: KUHAP Baru Resmi Berlaku Ketua Umum FORKOGAKUM: Siap-Siap, Semua Penegak Hukum Wajib Beradaptasi
Regulasi dan teknologi dapat memperbaiki sistem, tetapi perubahan kultur hanya terbentuk lewat keteladanan dan konsistensi.
Ia mengapresiasi digitalisasi layanan Polri serta program modernisasi seperti PRESISI. Meski begitu, ia melihat tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh personel menghidupkan nilai humanis, transparan, dan berorientasi pelayanan.
Menurutnya, sebagian wilayah masih menghadapi pelayanan yang tidak merata, sementara kultur komando kadang mengalahkan pendekatan sosial.
Haidar menekankan bahwa Polmas (Pemolisian Masyarakat) menjadi kunci transformasi. Konsep tersebut menempatkan polisi dan warga sebagai mitra, bukan sekadar penegak hukum dan objek layanan.
“Kepercayaan publik adalah energi terbesar sebuah negara,” ujar Haidar.
Tanpa kepercayaan, hukum kehilangan wibawa, apalagi di tengah ancaman hoaks, kejahatan siber, dan radikalisasi. Kedekatan sosial menjadi radar pencegahan paling awal.
Ia juga mengkritik kecenderungan publik yang mempersempit isu pembenahan Polri hanya pada pergantian Kapolri.
Fokus yang terlalu berpusat pada figur, menurutnya, membuat persoalan mendasar berupa reformasi kultural luput dari perhatian.
Haidar menyebut reformasi kultural tidak menghasilkan sorotan seperti perubahan struktural, tetapi berfungsi sebagai investasi jangka panjang untuk stabilitas nasional, kepercayaan publik, dan ketangguhan negara.
“Menguatkan kultur Polri berarti memperkuat fondasi masa depan Indonesia,” tegasnya.***